Tidak sedikit yang berpendapat betapa berisikonya membicarakan akhirat. “Bukankah akhirat termasuk perkara yang ghaib? Apakah kita boleh membicarakan yang ghaib? Apakah tidak selayaknya kita percayai saja?”
Ada juga yang tidak kalah sedikitnya yang ingin mengetahuinya. “Kita semua mau tidak mau akan hidup disana. Apakah kita tidak ingin mengetahui bagaimana keadaannya?Kalau memang ada informasi yang bisa diterima secara akal dan iman, kenapa kita tidak mendiskusikannya saja?”
Mari kita mendiskusikan alam akhirat dengan menggunakan dua pendekatan. Yang pertama, dari sisi keimanan. Dan yang kedua, dari sisi akal. Dan yang penting keduanya akan dibahas secara simultan, alias saling berkaitan.
Bagaimana caranya? Caranya, adalah dengan mendasarkan diskusi kita kepada informasi di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Sebab, memang tidak ad satu pun data empiris yang bisa kita jadikan titik tolak untuk melakukkan analisa tentang kehidupan akhirat. Yang ada ialah informasi Al-Qur’an bahwa manusia kelak akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatannya sewaktu hisup di dunia.
Akan tetapi, selain sisi keimanan sebagai entry point, agaknya kita memerlukan data-data empiris, serta teori-teori ilmu pengetahuan modern, sebagai alat analisa dengan menggunakan mekanisme akal. Ini diperlukan supaya analisa kita tidak menyimpang jauh dari kenyataan yang ada.
Untuk memulai diskusi ini dengan membahas definisi ghaib. Sebenarnya, apakah pengertian ghaib itu? Secara bahasa, ghaib berarti tidak terdeteksi oleh panca indera (lihat Al-Qur’an dan Terjemahannya, diterbitkan oleh Lembaga Percetakan Al-qur’an, Raja Fahd, Arab Saudi, hal.8, catatan kaki nomer 14). Tetapi meskipun tidak terdeteksi oleh panca indera, hal yang disebut ghaib itu bukannya tidak ada. Kejadian tersebut sebenarnya ada dan terjadi disekitar kita.
Agar kita lebih mantap, marilah kita nuklikan beberapa ayat Al-Qur’an untuk menuntun pengertian kita. Di antaranya ketika Allah menceritakan kepada Rasulullah kisah tentang Maryam, ibunda Nabi Isa dalam QS. Ali ‘Imran (3) : 44 “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal kamu tidak hadir besrta mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa diantara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.”
Ayat lainya, misalnya ketika Allah memberikan tentang kisah Nabu Nuh kepada Rasulullah dalam QS. Huud (11) : 49
”Itu adalah di antar berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), tidak pernah kamu mengetahuiny, dan tidak (pula) kaumu sebelum ini. Maka bersabarlah, (karena) sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Atau ketika Dia menceritakan tentang berbagai ciptan-Nya di alam sekitar kita dalam QS. An’aam (6) : 59
“Dan pada sisi Allahlah semua kunci yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan Bumi dan tidak sesuatu basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.”
Jika kita mencermati kalimat-kalimat dalam ayat-ayat tersebut, maka kita bisa mengambi kesimpulan bahwa yang disebut ‘ghaib’ itu bukanlah sesuatu yng mutlak tidak bisa dideteksi oleh seluruh manusia. Melainkan, sesuatu yang tidak bisa dideteksi oleh sebagian orang, pada masa tertentu saja.
Sebagai contoh, kisah tentang Maryam. Kejadian yang diceritakan oleh Allah kepada Nabu Muhammad itu ‘benar-benar terjadi’ pada zaman Maryam. Jadi tidaklah ghaib buat oramng-orang yang hidup bersama Maryam. Akan tetapi kejadian itu ghaib buat Rasulullah, dan umat pada zamannya.
Demikian pula kisah tentang Nabi Nuh. Kejadian itu tidaklah ghaib pada saat Nabi Nuh hidup, akan tetapi ghaib bagi umat pada zaman Nabi Muhammad, karena umat Muhammad tidak ada yang hadir pada saat kejadian itu dikatakan ghaib.
Jika pengertian ini kita perluas pada nukilan ayat yang ketiga di atas, maka keghaiban di alam semesta ini pun bisa kita simpulkan tidak terjadi secara mutlak, melainkan relative antara satu orang dengan yang lainnya. Namun, sangat jelas bahwa Allah mengetahui secara keseluruhan kejadian di semua penjuru alam semesta. Sedangkan kita, manusia hanya diberi pengetahuan sebagian kecil saja. Selalu ada bagian yang tersembunyi yang tidak kita pahami dan tidak terdeteksi alias ghaib. Akan tetapi, ghaib bagi saya, belum tentu ghaib bagi anda. Demikian sebaliknya, yang ghaib bagi anda belum tentu ghaib bagi orang yang lain lagi.
Keghaiban bersifat relative, bukan hanya antara satu orang dengan yang lainnya, tetapi juga ada dinamika yang terjadinya sesuai dengan perkembangan zaman. Pada zaman Nabi Nuh kejadia tersebut tidak ghaib, tetapi pada zaman kita sekarang kejadian tersebut manjadi ghaib. Karena kita tidak mengalaminya dan tidak punya datanya. Demikian pula sebaliknya, kejadian masa kini tidak ghaib bagi kita, tetapi ghaib bagi zaman Rasulullah.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa sesuatu yang ghaib tidaklah mutlak adanya. Bukan sama sekali tidak boleh membicarakannya. Dengan melakukkan penyelidikan dan analisa terus menerus, insya Allah, yang tadinya ghaib akan terkuak sedikit demi sedikit. Tentu saja dengan ijin Allah Sang Penguasa Keghaiban.
Sebagai contoh, dulu energy magnetic adalah perkara ghaib. Tetapi dengan adanya penelitian terus menerus, maka kini energi magnetic itu bukanlah sesuatu ghaib lagi. Demikian pula berbagai penemuan lain dibidang kedokteran, biologi, fisika, dan lain sebagainya. Dulu perkembangan janin di dalam rahim adalah sesuatu yang ghaib, tapi kini kita bisa mengikutinya dengan menggunakan alat deteksi, katakanlah USG. Maka, perkembangan janin tidak lagi bersifat ghaib. Dulu atom dan molekul adalah perkara ghaib, tetapi kini tidak. Contoh-contoh ini bisa kita perluas dalam kehidupan kita. Mulai dari penemuan-penemuan biomolekuler pada diri manusia yang bersifat ,mikrokosmos, sampai pada penemuan-penemuan astronomi di jagat semesta, yang makroskosmos. Banyak sekali hal-hal yang dulu ghaib, ternyata kini tidak ghaib lagi…




0 Responses So Far: