Twitter Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon


Hukum Menyemir Rambut dengan Warna Hitam 0

Unknown | 10.25 | , , , , , , , ,

Rasulullah SAW telah bersabda :
"Kelak di akhir zaman ada suatu kaum yang mewarnai rambutnya dengan warna hitam seperti sekumpulan burung dara, mereka itu tidak akan dapat mencium bau surga". (HR. Abu Daud)

Dari hadist di atas dapat kita ketahui bahwa hukum menyemir rambut dengan warna hitam itu dilarang, sebab hal ini menimbulkan penipuan terhadap orang lain yang menampakan keadaan yang tidak sebenarnya. Namun, apabila meneymirnya dengan warna selain hitam, maka hal ini diperbolehkan.

Hal ini berdasrkan pada suatu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir ra,ia berkata :
" Pada perang fathu Makkah, Abu Quhafah didatangkan sedang kepala dan janggutnya putih. Maka nabi Muhammad SAW bersabda : "Ubahlah ini dengan sesuatu warna tetapi hindarillah hitam".

Menyemir rambut tidak terlarang asalkan bukan berwarna hitam. Bahkan dalam konteks upaya membedakan diri dari pemeluk lain dimasa itu, Rasulullah pernah memerintahkan untuk menyemir atau mewarnakan rambut.

Sebagaimana yang bisa kita baca di dalam hadits Rasulullah SAW berikut ini : Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda , "Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak mau menyemir rambut, karena mereka itu berbedalah kamu dengan mereka" (Riwayat Bukhari)

Perintah disini mengandung arti sunnah bukan kewajiban. Sehingga dikerjakan oleh sebagian sahabat, misalnya Abu Bakar dan Umar, sedangkan sahabat yang lainya tidak melakukannya, seperti Ali, Ubai bin Kaab dan Anas.

Tidak Membersihkan Sisa Kencing 0

Unknown | 09.49 | , , , ,

Allah SWT telah berfirman :
"Sesungguhnya Allah Menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri". (QS. Al-Baqarah : 222)

Ayat Al-Qur'an di atas merupakan sebuah penegasan bahwa Allah SWT sangat menyukai terhadap orang-orang yang suka menjaga kebersihan, sehingga apabila ada seorang wanita yang tidak mau menjaga kebersihannya, padahal air kencingnya, padahal air kencing itu adalah sesuatu najis, maka ia termasuk orang yang dibenci Allah. Di dalam kubur kelak ia akan mendapatkan siksa kubur.

Seperti yang telah disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi :
" Menurut Ibnu Abbas r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya dua penghuni kubur ini sedang disiksa. Sahabat menanyakan  tentang persoalan apa yang menyebabkan keduanya disiksa. Adapun salah satunya adalah di waktu sedang berjalan ia kurang membersihkan sisa kencingnya. Artinya, ia tidak menjaga dari padanya".

Semua Diciptakan untuk Manusia 0

Unknown | 00.24 | , , , , , , , , , , , ,

Bumi diciptakan Allah sebagai tempat untuk menggelar drama kehidupan manusia. Segala yang ada di muka Bumi diadakan untuk manusia. Mulai dari atmosfer, gunung-gunung, hujan, angin, miliaran jenis tanaman dan binatang, semuanya diciptakan Allah untuk melayani manusia. Hal itu dijelaskan oleh Allah sendiri dalam firman-Nya QS. Al-Baqarah (2) : 29
“Dialah (allah) yang menciptakan semua yang ada di muka Bumi ini untukmu, dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”

Disini kita merasakan betapa ada sebuah ‘kesengajaan’ yang sangat besar untuk menjadikan Bumi sebagai panggung drama kehidupan kita. Maka untuk mendukung terjadinya kehidupan di muka Bumi ini secara sempurna Allah menciptakan berbagai fasilitas kepada manusia.


Mulai dari bentuk Bumi yang bulat, kemiringannya yang 23,5 derajat, atmosfer yang tujuh lapis sebagai pelindung kehidupan. Bumi yang berotasi (berputar pada diri sendiri) dengan kecepatan lebih dari 1.600 km/jam, mau pun kecepatan revolusi (mengitari Matahari) yang sangat tinggi.


Demikian pula, air hujan yang terukur kadarnya, komposisi udara yang sangat khas, dan miliaran fasilitas lainya yang sangat kompleks, terdapat di alam sekitar kita, termasuk tanam-tanaman dan seluruh binatang di permukaan planet ini.

Tempat Kita Hidup dan Mati 0

Unknown | 00.12 | , , , , , , , , , , , , ,


Ada suatu di dalam Al-Qur’an yang sangat menarik untuk kita cermati, dalam menjelaskan fase-fase kehidupan manusia dalam surat QS. A’raaf (7) : 25

“Katakanlah: di Bumi itulah kalian hidup, dan di Bumi itu kalian mati, dan dari Bumi pula kalian akan dibangkitkan”

Firman Allah di atas menggambarkan secara sangat jelas kepada kita bahwa kehidupan manusia sejak dilahirkan, kemudian dimatikan, dan akhirnya dibangkitkan kembali, semuanya terjadi  di muka Bumi. Tidak beranjak dari Bumi ini.

Bumi rupanya memang didesain oleh Allah, Sang Khaliq sebagai tempat terjadinya drama kehidupan manusia. Sejak Nabi Adam diciptakan di surga, sampai kini dan kemudian nanti terjadi kiamat, manusia akan menjalaninya di permukaan planet Bumi.

Padahal kita tahu, bahwa alam semesta ini bukan hanya terdiri dari planet Bumi saja. Tetapi juga langit. Kita semua juga tahu bahwa langit adalah ruangan tak berhingga yang berisi benda-benda angkasa dalam jumlah yang sangat besar. Ada bertriliun-triliun planet dan meteor, juga ada triliunan bintang dan matahari, ada miliaran galaksi, ada jutaan seperkluster, dan berbagai benda langit lainnya. (Secara lebih terinci akan dijelaskan pada postingan berikutnya).

Namun demikian, Allah telah memilih salah satu planet di alam semesta yang bernama Bumi untuk tempat berlangsungnya kehidupan manusai. Bukan hanya itu, menurut ayat tersebut manusia juga akan mengalami kematian di muka Bumi. Dan akhirnya, suatu ketika, akan dibangkitkan atau dihidupkan kembalai di muka Bumi ini pula, untuk menjalani kehidupan berikutnya…

Ayat ini mambawa konsekuensi yang sangat besar terhadap berbagai pemahaman yang terlanjur kita yakini selama ini. Di antaranya adalah tentang penciptaan manusia pertama, yaitu Adam : dan tentang keberadaan ‘kehidupan akhirat’.

Kalau memang drama kehidupan manusia ini digelar di Bumi sejak Nabi Adam sampai dengan kehidupan kedua kita nnati, maka berarti kita digiring pada pemahaman bahwa Nabi Adam itu diciptakan di ‘surga’? lantas dimanakah surge tersebut berada? Apakah berarti bahwa surge itu juga di Bumi? Ini sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, sekaligus ‘membingungkan’. Atau setidak0tidaknya membuat kita ragu. Pertanyaan berikutnya, yang juga muncul sebagai konsekuensi pemahaman ayat tersebut adalah : berarti kehidupan kedua kita juga bakal terjadi di Bumi? Benarkah akhirat akan terjadi di Bumi?

Ghaibku dan Ghaibmu 0

Unknown | 23.53 | , , , , , , , , , , , , ,

Tidak sedikit yang berpendapat betapa berisikonya membicarakan akhirat. “Bukankah akhirat termasuk perkara yang ghaib? Apakah kita boleh membicarakan yang ghaib? Apakah tidak selayaknya kita percayai saja?” 

Ada juga yang tidak kalah sedikitnya yang ingin mengetahuinya. “Kita semua mau tidak mau akan hidup disana. Apakah kita tidak ingin mengetahui bagaimana keadaannya?Kalau memang ada informasi yang bisa diterima secara akal dan iman, kenapa kita tidak mendiskusikannya saja?”

Mari kita mendiskusikan alam akhirat dengan menggunakan dua pendekatan. Yang pertama, dari sisi keimanan. Dan yang kedua, dari sisi akal. Dan yang penting keduanya akan dibahas secara simultan, alias saling berkaitan.

Bagaimana caranya? Caranya, adalah dengan mendasarkan diskusi kita kepada informasi di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Sebab, memang tidak ad satu pun data empiris yang bisa kita jadikan titik tolak untuk melakukkan analisa tentang kehidupan akhirat. Yang ada ialah informasi Al-Qur’an bahwa manusia kelak akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatannya sewaktu hisup di dunia.

Akan tetapi, selain sisi keimanan sebagai entry point, agaknya kita memerlukan data-data empiris, serta teori-teori ilmu pengetahuan modern, sebagai alat analisa dengan menggunakan mekanisme akal. Ini diperlukan supaya analisa kita tidak menyimpang jauh dari kenyataan yang ada.

Untuk memulai diskusi ini dengan membahas definisi ghaib. Sebenarnya, apakah pengertian ghaib itu? Secara bahasa, ghaib berarti tidak terdeteksi oleh panca indera (lihat Al-Qur’an dan Terjemahannya, diterbitkan oleh Lembaga Percetakan Al-qur’an, Raja Fahd, Arab Saudi, hal.8, catatan kaki nomer 14). Tetapi meskipun tidak terdeteksi oleh panca indera, hal yang disebut ghaib itu bukannya tidak ada. Kejadian tersebut sebenarnya ada dan terjadi disekitar kita.

Agar kita lebih mantap, marilah kita nuklikan beberapa ayat Al-Qur’an untuk menuntun pengertian kita. Di antaranya ketika Allah menceritakan kepada Rasulullah kisah tentang Maryam, ibunda Nabi Isa dalam QS. Ali ‘Imran (3) : 44 “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal kamu tidak hadir besrta mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa diantara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.”

Ayat lainya, misalnya ketika Allah memberikan tentang kisah Nabu Nuh kepada Rasulullah dalam QS. Huud (11) : 49
”Itu adalah di antar berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), tidak pernah kamu mengetahuiny, dan tidak (pula) kaumu sebelum ini. Maka bersabarlah, (karena) sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Atau ketika Dia menceritakan tentang berbagai ciptan-Nya di alam sekitar kita dalam QS. An’aam (6) : 59
“Dan pada sisi Allahlah semua kunci yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan Bumi dan tidak sesuatu basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.”

Jika kita mencermati kalimat-kalimat dalam ayat-ayat tersebut, maka kita bisa mengambi kesimpulan bahwa yang disebut ‘ghaib’ itu bukanlah sesuatu yng mutlak tidak bisa dideteksi oleh seluruh manusia. Melainkan, sesuatu yang tidak bisa dideteksi oleh sebagian orang, pada masa tertentu saja.

Sebagai contoh, kisah tentang Maryam. Kejadian yang diceritakan oleh Allah kepada Nabu Muhammad itu ‘benar-benar terjadi’ pada zaman Maryam. Jadi tidaklah ghaib buat oramng-orang yang hidup bersama Maryam. Akan tetapi kejadian itu ghaib buat Rasulullah, dan umat pada zamannya.

Demikian pula kisah tentang Nabi Nuh. Kejadian itu tidaklah ghaib pada saat Nabi Nuh hidup, akan tetapi ghaib bagi umat pada zaman Nabi Muhammad, karena umat Muhammad tidak ada yang hadir pada saat kejadian itu dikatakan ghaib.

Jika pengertian ini kita perluas pada nukilan ayat yang ketiga di atas, maka keghaiban di alam semesta ini pun bisa kita simpulkan tidak terjadi secara mutlak, melainkan relative antara satu orang dengan yang lainnya. Namun, sangat jelas bahwa Allah mengetahui secara keseluruhan kejadian di semua penjuru alam semesta. Sedangkan kita, manusia hanya diberi pengetahuan sebagian kecil saja. Selalu ada bagian yang tersembunyi yang tidak kita pahami dan tidak terdeteksi alias ghaib. Akan tetapi, ghaib bagi saya, belum tentu ghaib bagi anda. Demikian sebaliknya, yang ghaib bagi anda belum tentu ghaib bagi orang yang lain lagi.

Keghaiban bersifat relative, bukan hanya antara satu orang dengan yang lainnya, tetapi juga ada dinamika yang terjadinya sesuai dengan perkembangan zaman. Pada zaman Nabi Nuh kejadia tersebut tidak ghaib, tetapi pada zaman kita sekarang kejadian tersebut manjadi ghaib. Karena kita tidak mengalaminya dan tidak punya datanya. Demikian pula sebaliknya, kejadian masa kini tidak ghaib bagi kita, tetapi ghaib bagi zaman Rasulullah.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa sesuatu yang ghaib tidaklah mutlak adanya. Bukan sama sekali tidak boleh membicarakannya. Dengan melakukkan penyelidikan dan analisa terus menerus, insya Allah, yang tadinya ghaib akan terkuak sedikit demi sedikit. Tentu saja dengan ijin Allah Sang Penguasa Keghaiban.

Sebagai contoh, dulu energy magnetic adalah perkara ghaib. Tetapi dengan adanya penelitian terus menerus, maka kini energi magnetic itu bukanlah sesuatu ghaib lagi. Demikian pula berbagai penemuan lain dibidang kedokteran, biologi, fisika, dan lain sebagainya. Dulu perkembangan janin di dalam rahim adalah sesuatu yang ghaib, tapi kini kita bisa mengikutinya dengan menggunakan alat deteksi, katakanlah USG. Maka, perkembangan janin tidak lagi bersifat ghaib. Dulu atom dan molekul adalah perkara ghaib, tetapi kini tidak. Contoh-contoh ini bisa kita perluas dalam kehidupan kita. Mulai dari penemuan-penemuan biomolekuler pada diri manusia yang bersifat ,mikrokosmos, sampai pada penemuan-penemuan astronomi di jagat semesta, yang makroskosmos. Banyak sekali hal-hal yang dulu ghaib, ternyata kini tidak ghaib lagi…

Sarana untuk Membersihkan Harta 0

Unknown | 23.34 | , , , , , , , , , , , , , ,

Daging dalam tubuh kita tidak boleh tumbuh dari makanan yang tidak halal, karena ia akan menjadi jatah bagi api neraka. Jangan pula jiwa ini dikotori oleh asupan gizi haram yang hanya menyehatkan jasmani, namun membunuh kepekaan rohani. Jangan!! Meskipun harta yang diperoleh halal zatnya dan perolehannya sudah sesuai dengan syari’at, ada saja kemungkinan harta itu bercampur dengan yang tidak halal. Inilah salah satu kelemahan manusia. Kurang jeli dan teliti.

Karenanya, berhimpunlah dalam saku kita antara harta yang benar-benar bersih dan halal dengan yang tidak jelas kehalalannya. Tidak ada seorang pun yang secara detil mampu untuk menghitungnya. Berapa jumlah harta yang meragukan dalam kumpulan gajinya tersebut?

Untuk mengatasi masalah tersebut secara pintas Islam memberikan jalan yaitu dengan mengeluarkan sedekah yang wajib ataupun yang sunnah. Jika ditunaikan dengan baik, maka harta tersebut telah dianggap bersih dan kotoran yang mngundang berbagai penyakit jasmani maupun rohani.

Firman Allah SWT: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Seseungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.At-Taubah : 103) 

Jika harta sudah berpindah tangan dari si kaya kepada si miskin dan sebaliknya, maka hal tersebut bersesuaian dengan kehendak Allah yang memutarnya tentulah mendapat ridha dan pahala Allah SWT.

Firman Allah :
Apa saja harta rampasan (fa’i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota. Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yati, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr : 7) 

Disisi lain meskipun seratus persen seseorang yakin akan kehalalan hartanya, tetap saja ia harus mengeluarkan sebagiannya sebagai hak dari rezeki itu sendiri. Misalnya saat panen, maka sebagian hasilnya harus disedekahkan.

Firman Allah :
“Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam0macam itu) nila dia berubah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin), dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am : 114) 

Begitulah cara membersihkan dan menghalalkan harta orang Islam. Jika harta telah disempurnakan haknya, maka ia akan menjadi rezeki yang berkah. Selain itu, harta tersebut juga akan memberikan semangat ibadah kepada Allah SWT yang tinggi bagi para pelakunya.

Masuk Surga dari Pintu Sedekah 0

Unknown | 23.13 | , , , , , , , ,

Siapa yang tidak ingin namanya dipanggil-panggil oleh pintu surga agar segera memasukinya? Sesuatu yang sangat dirindukan oleh seluruh orang beriman ketika hidup di dunia. Dan untuk mendapatkan tiket antri tersebut, mereka telah banyak berkorban dengan harta, jiwa, dan raga. Sebagiannya menghabiskan harta dan menghabisi hidupnya dengan tusukan pedang atau hantaman peluru musuh di tubuh. Sebagian laninya dengan digantung atau diracun dan sebagiannya karena penyakit akibat kepayahan yang mendera sehari-hari.

Sebagian menekuni shalat berjama'ah, berhaji, berpuasa, dan ada juga yang istiqamah bersedekah dalam rezekinya yang pas-pasan dan amalan-amalan kain yang mereka lazimi. Mereka tegar dan terus beramal, melangkah menuju jannah Allah SWT. Dan kini pintu-pintu berkah itu ada di hadapannya. Akan tetapi, mereka bingung, mana yang dapat dimasuki? Sebab, ia tidak dapat menyelinap atau berdesakan untuk memasukinya. Seseorang harus dipanggil dulu oleh sang pintu agar ia terbuka dan ridha untuk dimasukinya.

Surga memiliki banyak pintu. Bagi yang ahli shalat, maka Babush Shalah akan memanggil-manggil namanya. Bagi yang gemar berpuasa maka Babush Rayyan akan memanggil-manggil namanya dan seterusnya. Nah, Babush Shadaqqah juga berbuat demikian, Ia akan memanggil nama-nama yang ketika di dunia gemar bersedekah, sehingga Allah menciptakannya.

Rasulullah bersabda :
"Barang siapa menyedekahkan dua pasang kuda fisabilillah, niscaya akan dipanggil di surga kelak, Wahai hamba ALlah, inilah kebaikan. Jika ia ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu sahalat. Jika ia ahli jihad, maka ia akan sipanggil dari pintu jihad. Jika ia ahli sedekah, ia akan dinggil dari intu sedekah. Dan jika termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu Ar'Rayyan." (HR.Bukhari dan Muslim)

Dengan kata lain, mereka yang gemar bersedekah berarti telah memegang salah satu kunci pintu surga. Ia tinggal merawat kunci tersebut, alias memelihara pahala sedekah. Jangan sampai rusak. Apalagi hilang untuk dugunakan pada saatnya nanti.


 
Rozor-V3 Copyright © 2011 Razor Theme V3 is Designed by Sameera Chathuranga